Alasan Ibu Hamil Harus Waspada dengan Preeklamsia
:strip_icc():format(webp)/article-hb/PYYzioN7xiZ7EDvONRfna/original/351mengapa-bayi-butuh-tidur-by-teerawit-chankowet-shutterstock.jpg)
dr. Venny Beauty
Preeklamsia merupakan masalah kehamilan yang dapat membahayakan, baik bagi Mama maupun janin dalam kandungan. Angka kejadian preeklamsia ditemukan pada sekitar 3-5 persen kehamilan pada negara berkembang.
Mengapa preeklamsia penting? Preeklamsia termasuk salah satu penyebab utama kematian pada ibu hamil. Selain itu, preeklamsia dapat menyebabkan gangguan pada pertumbuhan janin.
Apa itu preeklamsia?
Preeklamsia, atau yang dikenal dengan keracunan kehamilan, ditandai dengan tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg dan adanya protein dalam urine.
Beberapa tanda dan gejala lain yang dapat berhubungan dengan preeklamsia adalah:
- Sakit kepala berat yang menetap.
- Nyeri ulu hati yang terus-menerus.
- Gangguan penglihatan, seperti penglihatan ganda dan penglihatan kabur.
- Mual dan muntah.
- Refleks pada tendon berlebihan ketika pemeriksaan oleh dokter.
- Peningkatan kadar kreatinin serum.
- Penurunan trombosit.
- Peningkatan enzim hati.
Apakah penyebab preeklamsia?
Berbagai penelitian menyebutkan kemungkinan penyebab preeklamsia, tetapi belum ada yang pasti.
Peneliti menunjukkan bahwa terdapat dua proses yang menyebabkan keadaan preeklamsia, yaitu aliran darah ke plasenta yang tidak baik dan kelainan aliran darah di dalam pembuluh darah, sehingga menyebabkan tekanan darah meningkat, pembengkakan tungkai, serta adanya protein dalam urine.
Lebih lanjut, ada beberapa faktor risiko terjadinya preeklamsia pada ibu hamil, yaitu:
- Berat badan berlebih atau obesitas.
- Belum pernah melahirkan sebelumnya.
- Riwayat keluarga dengan preeklamsia.
- Kehamilan ganda atau lebih.
- Riwayat diabetes sebelum kehamilan.
- Riwayat tekanan darah tinggi sebelum kehamilan.
- Kehamilan anggur.
- Hamil di usia tua.
Bagaimana cara mengatasi preeklamsia?
Secara umum, menurut National High Blood Pressure Education Program Working Group, preeklamsia dibedakan atas dua jenis, yaitu preeklamsia ringan dan preeklamsia berat.
Untuk kasus preeklamsia ringan, dapat dimonitor dengan pengukuran tekanan darah dan tes urine secara rutin di fasilitas kesehatan. Sementara untuk kasus preeklamsia berat, harus segera dirawat di rumah sakit.
Pengobatan preeklamsia difokuskan untuk menurunkan tekanan darah serta mengatasi keluhan lainnya. Gejala preeklamsia biasanya akan menghilang setelah ibu melahirkan. Untuk itu, terkadang dokter menyarankan untuk mengakhiri kehamilan atau melahirkan bayi lebih awal dengan tindakan operasi cesar.
Adakah cara untuk mencegah preeklamsia?
Belum ada cara pasti yang dapat mencegah preeklamsia. Meski demikian, pencegahan terjadinya komplikasi sangatlah penting. Komplikasi dari preeklamsia adalah eklamsia yang ditandai dengan kejang, dan mengancam nyawa.
Lakukanlah kontrol kehamilan secara rutin di fasilitas kesehatan. Dengan memeriksakan kandungan Mama secara teratur, Dokter akan mendeteksi sedini mungkin jika terdapat kondisi preeklamsia, sehingga dapat ditangani secepat mungkin guna menghindari komplikasi.




Ini adalah komentar mama yang sedang hamil 7 bulan lamanya. tampilkan selengkapnya
- 0

:strip_icc():format(webp)/article-hb/dt59hhOGmQyRTHxiOC841/original/al0q4wqaevtoubrm6h8l63h9u88k4npd.jpg)
:strip_icc():format(webp)/article-hb/3Yw9zXIleyXgz4WRT2akl/original/2xexekq3us2ilhs7it90hnzhul9992px.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/FbPavJAl78cPS3Mmq0H_3/original/0kram-saat-hamil-ini-solusinya.jpg)